Benderang

Setiap perjalanan akan memiliki ceritanya sendiri sendiri,  memiliki rasa mendalam


Rasa benci, rasa ingin menguliti hingga mati.
Rasa cinta, rasa ingin bersama meski hanya sesaat.

---------

Sore itu Ia berdiri di lepas pantai, memandangi ufuk barat dengan seksama, menanti waktu tuk berlayar tiba.

Ia begitu yakin bahwa perahu kecil miliknya itu akan pergi berlayar tak lama lagi. Ia telah memantapkan hatinya untuk pergi dan meninggalkan semuanya di belakang. Hanya tinggal layar tak berbentuk yang telah dirusak oleh badai semalam yang mampu menghambatnya.


Kapal telah berlabuh terlalu lama, ia harus pergi, tonggak harus berdiri.

------------

Hai kau nona manis berpipi merah! telah ku tetapkan matang matang bahwa engkau adalah sebaik baiknya tempat berlabuh saat badai menghampiri.

Ketidak pura pura an mu, mampu meluluhkan ratusan hati meski ia sekeras batu, atau sekuat besi.
Maka malam itu juga, ku kuatkan kedua hati ku dan kecup mata hati mu.

Ku berikan pelukan terhangat yang dapat ku berikan sebagai manusia. Ku buka segala yang dapat ku berikan hingga malam berganti fajar.

--------

Menjelang fajar, ketiga layar dari perahu kecil tersebut telah terbentang. Jalanan telah terang benderang, tak  ada lagi langkah langkah yang bimbang.

Perempuan itu tak berkata sepatah kata, memandangi lelaki tersebut menaiki perahu kecilnya dengan gagah.

Ia lambaikan tangan mungilnya dan diberikannya senyuman terlebar yang dapat ia berikan



Perahu kecil pun pergi berlayar, mengarungi samudra.
Berlayar tak berarah, menuju tanah tak bertuan, mengarungi lautan.
.
.
.
Tak mengetahui jalan pulang.




Bogor, 10 Agustus 2018







-R-

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut